Sep
29

MANAJEMEN DIRI

by , under Motivasi

Manajemen diri (self management) merupakan istilah yang sangat
populer saat ini. Banyak seminar, training, maupun tulisan yang
mengupas subyek ini karena memang diperlukan bagi mereka yang berada di
lingkungan profesional maupun dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.

Pada dasarnya manajemen diri merupakan pengendalian diri
terhadap pikiran, ucapan, dan perbuatan yang dilakukan, sehingga
mendorong pada penghindaran diri terhadap hal-hal yang tidak baik dan
peningkatan perbuatan yang baik dan benar.

Manajemen diri juga menuju pada konsistensi dan keselarasan pikiran,
ucapan dan perbuatan sehingga apa yang dipikirkan sama dan sejalan
dengan apa yang diucapkan dan diperbuat. Integritas seperti inilah yang
diharapkan akan timbul dalam diri para praktisi manajemen diri.

Sebelum bisa memiliki pikiran-ucapan-perbuatan baik, terlebih dahulu
seseorang harus memiliki pemahaman dan pengertian yang benar.

Jadi urutan yang benar adalah :

Pemahaman/pengertian benar ==> pikiran benar ==> ucapan benar ==>perbuatan benar.

Akan tetapi walaupun punya pemahaman terhadap kebaikan dan ketidakbaikan, belum tentu pikiran
seseorang mampu diarahkan terus-menerus terhadap kebaikan. Dan walaupun
seandainya pikiran seseorang sudah didominasi oleh kebaikan, belum
menjamin bahwa ucapannya selalu sejalan dengan pikiran baik ini. Demikian pula tidak ada garansi bahwa perbuatannya secara fisik merefleksikan sepenuhnya pikiran yang baik ini.

Sebagai contoh, apapun latar belakang, umur, jenis kelamin, pendidikan,
suku dan lain sebagainya, umumnya kita setuju bahwa olah raga dengan
frekuensi dan dosis yang tepat, dapat menjaga kebugaran, daya tahan dan
kesehatan seseorang. Pemahaman ini menuntun pada pikiran yang baik
bahwa olah raga penting bagi kesehatan.

Pemahaman dan pikiran tentang kebaikan olah raga ini lebih mudah
sejalan dengan ucapan. Sewaktu menasihati orang lain, dengan mudah kita
menjelaskan pentingnya berolah raga secara teratur. Akan tetapi sewaktu
harus praktek langsung, banyak di antara kita akan memunculkan berbagai
alasan untuk mendukung dan memberikan pembenaran mengapa diri kita
sendiri jarang atau bahkan tidak sama sekali berolah raga. Mulai dari
alasan sibuk bekerja, waktunya belum tepat, tidak ada sarana, dan
lain-lain.

Ini menjelaskan mengapa banyak orang yang tidak atau belum sukses
padahal begitu banyak kiat, taktik, strategi, dan metode sukses
diajarkan melalui buku, kaset, seminar dan lain-lain. Banyak di antara
kita hafal di ‘luar kepala’ dan mampu dengan cepat menyebutkan
persyaratan untuk bisa sukses, mulai dari berdisiplin tinggi, tepat
waktu, punya integritas, jujur, fokus pada apa yang sedang dikerjakan,
kerja sama team, bertanggung jawab, bekerja keras, tidak mudah putus
asa, dan lain sebagainya.

Begitulah, banyak dari kita hanya bermain pada tataran pemahaman dan pikiran, atau paling jauh sampai level ucapan saja.
Begitu harus diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari secara
disiplin, kita memberikan banyak maaf kepada diri sendiri untuk menunda
atau tidak melakukan berbagai kiat, taktik, strategi dan metode sukses
tersebut.

Akhirnya sukses terlihat hanya menjadi hak orang lain dan bukan hak
kita. Padahal kita sendirilah yang menentukan sukses tidaknya diri kita
masing-masing karena setiap orang punya hak untuk sukses, seperti yang
dikatakan oleh Bapak Andrie Wongso bahwa " Success is My Right " (sukses adalah hak saya).

Sebenarnya tanpa perlu menjalankan semua persyaratan sukses, masih
terbuka lebar kesempatan meraih berbagai keberhasilan dalam hidup kita.
Seringkali cukup dengan menjalankan secara disiplin dan konsisten
beberapa poin saja di antaranya, maka kita akan menjadi insan-insan
yang berbeda dan lebih baik dari mereka-mereka yang hanya berwacana di
tataran pikiran dan ucapannya saja (OmDo = Omong Doang, NATO = No Action Talk Only, "Tong Kosong Nyaring Bunyinya").

Dari contoh-contoh di atas dapat diringkas sebagai berikut :

Pemahaman/pengertian benar ==> pikiran benar ==> ucapan benar ==> perbuatan salah.

Kondisi yang lebih memprihatinkan adalah :

Pemahaman/pengertian benar ==> pikiran benar ==> ucapan salah  ==> perbuatan salah.

Tidak tertutup kemungkinan juga :

Pemahaman/pengertian benar ==> pikiran salah  ==> ucapan salah  ==> perbuatan salah.

Dan yang pasti terjadi jika pemahaman/pengertian seseorang tidak benar adalah :

Pemahaman/pengertian salah ==> pikiran salah ==> ucapan salah ==> perbuatan salah.

John C. Maxwell mengatakan bahwa pikiran berlanjut ke ucapan terus ke perbuatan. Jika rangkaian ini terus dilakukan dapat membentuk kebiasaan yang menghasilkan karakter seseorang dan akhirnya menentukan destiny (= nasib)-nya.

Marilah kita mulai menyelaraskan antara pikiran benar, ucapan benar dan perbuatan benar untuk membentuk kebiasaan benar dalam membangun karakter yang benar pula sehingga pada akhirnya kita bisa menuai ‘hasil’ yang baik dan benar pula dalam semua aspek kehidupan kita.

Blog Cepat ini
Powered by Hostgator
Dapatkan Kupon Diskonnya DISINI
Tag:


Leave a Reply

© Copyright Sijaketbiru Online 2009. All rights reserved. | Powered by Wordpress | Designed by ThemesGuy
© 2014 - Sitemap - Privacy Policy